Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2008

Alan Greenspan, Sang Maestro

Alan Greenspan, Sang Maestro = Maestro: Greenspan's Fed and the American Boom. Bob Woodward. Ufuk Press, 2008.

Banyak predikat yang disandang Alan Greenspan, mantan pimpinan The Federal Resereve (The Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat. Ada yang menyebut sebagai ikon, maestro, dan dewa ekonomi AS, bahkan dunia.
Pemberian sebutan dari berbagai kalangan, khususnya para pelaku pasar ekonomi, ini tidak dapat dipisahkan dari sepak terjang Alan Greenspan, seperti yang terekam dalam buku karya Bob Woordward, jurnalis The Washington Post, tahun 2000.
Meski edisi Indonesianya baru keluar tahun 2008, publikasi ini tetap menarik untuk disimak. Sepak terjang mantan Ketua Penasihat Dewan Ekonomi Presiden Nixon sejak diangkat sebagai Gubernur The Fed hingga tahun 2000 dipaparkan secara rinci dalam buku ini.
Masih banyak catatan keberhasilan tokoh moneter dan finansial ulung yang mengakhiri jabatannya pada tahun 2006 ini.

Dari Maaf ke Panik Aceh: Sebuah Sketsa Sosiologi-Politik

Dari Maaf ke Panik Aceh: Sebuah Sketsa Sosiologi-Politik. Otto Syamsuddin Ishak.-- Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), 2008.

Pikiran-pikiran Otto bukan sekedar catatan peristiwa melainkan menjadikan catatan itu sebagai inspirasi baru untuk menata Aceh sekarang dan masa datang. Dalam semangat seperti itu Aceh akan menjadi inspirasi bagi semua orang di luar Aceh dan di dalam Aceh sendiri.
Aceh saat ini adalah inspirasi dalam kancah politik Republik Indonesia. Hal itu telah terwujud sejak era kolonial hingga era global ini. Keberanian dan kegigihan Aceh di masa kolonial telah menjadi inspirasi bagi perjuangan anti kolonial di seantero nusantara. Bahkan RI hasil proklamasi 17 Agustus 1945 berhutang semangat dan material pada Aceh. Pada gilirannya Aceh menjadi tiang penyangga republik muda itu untuk terwujud.
Di era global ini Aceh menghadirkan kembali inspirasi baru. Sebab Aceh telah mempertontonkan sebuah ketekunan dan keyakinandan keyakinan akan pendirian dalam melawan kekuasaan yang tiran dari republik yang ikut ia bidani hadirnya dahulu.
Artikel-artikel yang dihimpun dalam buku ini menunjukkan sikap pribadi dan keorisinalitasan sikap dan pandangan Otto terhadap perkembangan yang terjadi di Aceh dalam kurun 2000 sampai 2005.
Dalam tulisannya, Otto seperti orang membawa senjata trisula yang ketiga ujungnya sama tajamnya. Satu ujung trisula itu mengarah tajam ke arah keindonesiaan yang bangkrut di Aceh yang diwakili oleh para petinggi Indonesia di Jakarta dan di Aceh. Sula keduanya menohok ke hulu hati para petinggi Aceh yang menjadi babu para petinggi Jakarta demi merawat pundi-pundinya sendiri di belantara kekejian yang begitu berbau anyir. Sula ketiganya menghantam siapa saja yang merasa dirinya menjadi intelektual, aktivis mahasiswa, atau LSM baik di Aceh maupun Jakarta, karena Otto dalam tulisannya mengkritik sikap mendua dari para aktivis tersebut.